04.25.08

Social Mapping (Pemetaan Sosial)

Ditulis dalam CSR tagged , , , , pada 4:51 pm oleh Abu 'Umar

Oleh : Riki Triandono

Untuk membangun sebuah perusahaan dalam kawasan pemukiman, khususnya perusahaan tambang, pihak perusahaan dituntut untuk melakukan survei terlebih dahulu berkaitan dengan hal apa saja yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dan mengindentifikasi apa saja yang akan menjadi dampak ketika berdirinya perusahaan tersebut (AMDAL), maka lebih lanjut pihak perusahaan akan mendirikan sebuah lembaga dengan sebutan public consultation, yang dimana lembaga ini bisa menampung aspirasi masyarakat (komunitas) sekitar sehingga nantinya tidak mengeluh terhadap perusahaan.

Ketika public consultation telah berjalan dan menerima masukan dari komunitas sekitar, maka pihak perusahaan akan melakukan pemetaan komunitas atau yang lebih dikenal dengan sebutan social mapping (SC), pemetaan komunitas merupakan salah satu bagian dari Community Development (CD) dimana CD menginstruksikan kepada pelaku SC untuk benar-benar mengetahui dan memahami apa saja yang ada di masyarakat

Pelaksanaan pengembangan komunitas oleh perusahaan, atau yang di sebut social mapping, dimaksudkan untuk melihat dan mengetahui keadaan masyarakat sekitar daerah operasional perusahaan, dan kemudian perusahaan melakukan need assessment, atau mencari tahu kebutuhan masyarakat untuk kemudian merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan tersebut

Social mapping (pemetaan komuniti) selain dilakukan untuk menemukenali potensi sumber daya dan modal sosial komuniti, juga dapat dilakukan untuk mengenal stakeholder dalam kaitannya dengan keberadaan  dan aktivitas pelaku CD, tidak hanya yang berpotensi untuk diajak bekerjasama tetapi juga yang berpotensi untuk menghambat pelaksanaan program ke depan. Melalui social mapping ini pula dapat teridentifikasi kebutuhan dan akar permasalahan yang dirasakan komuniti dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Selanjutnya, hasil dari social mapping inilah yang digunakan sebagai bahan perencanaan program CD yang lebih komprehensif.

Pada dasarnya setiap pelaku (individu/kelompok) memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu hal yang terdapat dalam lingkungan sosialnya yang didasari oleh faktor-faktor psiko-histori dan motif kepentingan yang berada dalam dirinya. Faktor ini akanmempengaruhi pelaku tersebut dalam menginterpretasikan situasi terakhir hingga proses perumusan tindakan (Berkhofer, 1971).

Dari pemahaman diatas, aktor dalam CD benar-benar jeli dalam melakukan pemetaan komunitas khususnya pemenuhan kebutuhan masyarakat sekitar, agar tidak disusupi oleh oknum-oknum yang berkepentingan, terutama dalam pemilihan tokoh utama masyarakat, ini disebabkan begitu urgentnya tokoh tersebut untuk membantu pembangunan komunitas sekitar. Masing-masing pihak memiliki interpretasi terhadap suatu hal berdasarkan kepentingan mereka sendiri. Pola pengkotakan sosial berdasarkan kepentingan,pengalaman sejarah masing-masing pihak terkait;  Dengan memahami siapa-siapa saja yang merupakan pihak-pihak terkait dalam lingkup kegiatan sekitar perusahaan, merupakan dasar bagi penyusunan progam Community Development dan Pengelolaan Konflik

Analisis Pihak-pihak Terkait (Stakeholders) sebagai suatu Metode Suatu pendekatan untuk memahami suatu sistem dengan cara mengidentifikasikan aktor-aktor kuncinya/para stakeholders di dalamnya, dan menilai kepentingan mereka dalam sistem tersebut.
Perlunya analisis pihak-pihak berkepentingan (stakeholders) untuk:

  • Mengenali pihak-pihak terkait secara  langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi pengelolaan sumberdaya ekonomi setempat

  • Menggolongkan pihak-pihak utama terkait (formal dan informal) berdasarkan kepentingan mereka, kondisi ekonomi,  kiat-kiat dan dinamika kegiatan mereka saat ini

  • Mengikuti dinamika regulasi/aturan main diantara pihak-pihak terkait dalam rangka pemanfaatan sumberdaya ekonomi lokal

  • Menganalisa perbedaan interpretasi masing-masing pihak terkait mengenai pemanfaatan sumberdaya ekonomi local

  • Menganalisis jaringan sosial diantara para stakeholders dalam memanfaatan sumberdaya yang ada

Pada dasarnya pelaksanaan SC akan lebih baik jika pihak perusahaan mendapatkan data sekunder dari kelurahan atau BPS supaya nantinya dapat memudahkan untuk memetakan apa saja yang nantinya menjadi kebutuhan masyarakat dan potensi alam apa saja yang ada di masyarakat tersebut.

Dari data itulah nantinya secara cepat bisa dipetakan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan sektor mana saja yang harus ditingkatkan oleh perusahaan, maka pada akhirnya proses sosial mapping (SC) dapat berjalan dengan baik.

Tinggalkan sebuah Komentar